Pages

Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts
Wednesday, November 23, 2011

KISAH RAMA-RAMA YG TIDAK BOLEH TERBANG..

belajarlah dari sang rama-rama..


Suatu hari, ada seorang budak lelaki  sedang memerhatikan seekor kepompong..
Didalamnya ada rama-rama  yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong dan
Kelihatannya begitu sukar

Budak lelaki tersebut merasa kesian kepada rama – rama tersebut
Dia ingin membantu rama-rama agar dapat keluar dengan mudah.
Akhirnya kanak-kanak  mengambil gunting dan membantu memotong
kepompong agar rama-rama dapat keluar dengan segera dan senang.
Alangkah senang dan leganya kanak-kanak tersebut.

Saturday, April 9, 2011

terkedu tanpa kata...bersyukurlah seadanya...





Perkahwinan itu telah berjalan selama empat (4) tahun, namun pasangan suami isteri itu belum dikurniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kenapa belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa? Suaminya atau isterinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berita.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami isteri itu pergi ke salah seorang doktor untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang isteri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang isteri untuk sembuh dalam erti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah…

Sang suami seorang diri memasuki ruang doktor dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu isterinya dan membiarkan sang isteri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum lelaki.

Sang suami berkata kepada sang doktor: “Saya akan panggil isteri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada isteri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Sang doktor menolak dan menjadi hairan. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang doktor, akhirnya sang doktor setuju untuk mengatakan kepada sang isteri bahawa masalah datang padanya sang suami dan bukan ada pada sang isteri.

Sang suami memanggil sang isteri yang telah lama  menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang isteri ia memasuki ruang doktor. Maka sang doktor membuka sampul surat hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara isterimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

Mendengar pengumuman sang doktor, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami isteri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahsia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami isteri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang isteri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan soleh-nya sang isteri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang isteri yang memuncak, sang suami berkata: “isteriku, ini cubaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang isteri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang isteri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”. Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang isteri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang isteri mengalami kegagalan ginjal. Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologi sang isteri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin mengendong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”. Sang isteri pun tertidurlah di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”. “Hah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, saya akan pergi kerana tugas dan sekali gus mencari penderma ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang penderma ke tempat pembaringan sang isteri. Maka disepakatilah bahawa esok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang penderma.
Saat itu sang isteri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa dia itu, isterinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu masa, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahawa sang penderma itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk isterinya, tanpa sepengetahuan sang isteri, tetangga dan siapa pun selain doktor yang dipesannya agar menutup rapat rahsia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang isteri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami isteri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakulti syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang hakim di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang isteri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pengsan saat menemukan rahsia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelefon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya.  Sang suami hanya dapat membalas suara telefon isterinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulan, sang isteri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisah yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

dan diterjemahkan pula oleh saya dalam bahasa melayu yang mudah difahami. Subhanallah, semoga aku dapat menjadi suami seperti dia. 

p/s: dishare dari blog the kakaroct

Thursday, January 6, 2011

terbiyah sang malaikat kecil itu...


Pada setiap petang Jumaat, selepas solat Jumaat, selepas melayani para jamaah di Masjid, Imam dan putera lelakinya yang berumur 11 tahun akan keluar ke bandar untuk mengedarkan risalah bertajuk “Jalan Ke Syurga” dan juga menyampaikan ceramah agama.

Pada petang Jumaat itu, seperti biasa Imam dan putera lelakinya akan keluar untuk mengedarkan risalah. Bagaimanapun pada petang tersebut keadaan di luar rumah sangat sejuk dan hujan pula turun dengan sangat lebat.


Budak itu memakai baju sejuk dan baju hujan dan berkata “OK ayah, saya sudah bersedia”. Ayahnya berkata “Bersedia untuk apa?”. Budak itu menjawab “Ayah, masa telah tiba untuk kita keluar mengedarkan buku-buku tentang Islam ini”. Ayahnya membalas “Anakku, di luar sana sangat sejuk dan hujan lebat pulak”.

Dengan muka yang kehairanan, budak itu bertanya ayahnya,
“Tetapi ayah, adakah manusia tidak masuk neraka jika hari hujan?”


Ayahnya menjawab, “Anakku, Ayah tak akan keluar dengan cuaca begini..”. Dengan nada sedih, budak itu bertanya, “Ayah, boleh tak benarkan saya pergi?”. Ayahnya teragak-agak seketika, kemudian berkata, “Anakku, awak boleh pergi. Bawalah buku ini semua dan berhati-hati” .

Kemudian, budak itu telah keluar dan meredah hujan. Budak sebelas tahun ini berjalan dari pintu ke pintu dan lorong-lorong sekitar bandar. Dia memberikan risalah dan buku kepada setiap orang yang ditemuinya.
Setelah dua jam berjalan dalam hujan, akhirnya tinggal hanya satu naskhah padanya. Ketika itu dia telah basah kuyup dan berasa sejuk hingga ke tulang. Budak itu berhenti di satu penjuru jalan sambil mencari seseorang untuk diberikan buku tersebut. Namun keadaan di situ lengang.

Kemudian dia berpatah balik ke rumah pertama yang dia lalu di lorong itu. Dia berjalan di kaki lima menuju ke rumah tersebut. Bila sampai di pintu hadapan, dia menekan suis loceng namun tiada sesiapa yang membuka pintu. Dia tekan lagi dan lagi, tetapi masih tiada jawapan. Dia tunggu lagi tetapi masih tiada jawapan.


Akhirnya dia berpaling untuk meninggalkan rumah tersebut, tetapi seperti ada sesuatu yang menghalangnya. Dia kembali ke pintu itu dan menekan lagi suis loceng dan buat pertama kalinya mengetuk pintu dengan kuat. Dia tunggu, kemudian seperti sesuatu di anjung rumah itu menghalangnya supaya jangan pergi. Dia menekan suis loceng sekali lagi dan kali ini dengan perlahan pintu dibuka.

Berdiri di hadapan pintu itu seorang perempuan tua yang berwajah kesedihan. Dengan perlahan perempuan tua itu bertanya, “Apa yang boleh saya bantu awak, wahai budak?”.

Dengan senyuman serta mata yang bersinar yang boleh menyinarkan bumi, budak itu berkata, “Makcik, saya mohon maaf kalau saya telah mengganggu makcik. Saya hanya ingin memberitahu bahawa Allah sangat sayang dan sentiasa melindungi makcik. Saya datang ini hendak memberikan sebuah buku yang terakhir ada pada saya ini. Buku ini menerangkan semua tentang Tuhan, tujuan sebenar Tuhan menjadikan kita dan bagaimana untuk mencapai kebahagiaan daripada-Nya” .

Kemudian, budak itu menyerahkan buku terakhir itu dan berpaling untuk balik. Sebelum berjalan balik, perempuan itu berkata, “Terima kasih ya anak dan semoga Tuhan memberkatimu” .

Selepas solat Jumaat pada minggu berikutnya, Imam menyampaikan ceramah agama seperti biasa. Dia menamatkan ceramahnya dengan bertanya, “ Ada sesiapa yang ingin bertanya soalan atau ingin berkata sesuatu?”.

Dengan perlahan, di barisan belakang di kalangan tempat duduk muslimat, suara seorang perempuan tua kedengaran di speaker, “Tiada di kalangan jemaah yang berkumpul ini mengenali saya. Saya tidak pernah hadir sebelum ini. Sebelum hari Jumaat yang lepas, saya belum lagi memeluk agama Islam bahkan tidak terfikir langsung untuk memeluknya. Suami saya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, meninggalkan saya sebatang kara, saya benar-benar keseorangan di dunia ini."

Pada petang Jumaat yang lepas, ketika cuaca sejuk dan hujan lebat, saya telah bertekad untuk membunuh diri kerana sudah putus harapan untuk hidup. Jadi saya mengambil seutas tali dan sebuah kerusi lalu menaiki loteng di rumah saya. Saya ikat tali tersebut dengan kuat pada kayu palang di bumbung rumah kemudian berdiri di atas kerusi, hujung tali satu lagi saya ikat di sekeliling leher saya. Sambil berdiri di atas kerusi, saya berasa benar-benar keseorangan, patah hati. Saya hampir-hampir hendak melompat tiba-tiba loceng pintu berbunyi di tingkat bawah dan saya tersentak. Saya berfikir untuk menunggu sebentar, dan pasti orang itu akan pergi.
Saya tunggu dan tunggu, tetapi bunyi loceng semakin kuat dan bertubi-tubi. Kemudian orang yang menekan suis loceng itu, mengetuk pintu pula dengan kuat. Saya berfikir sendirian lagi “Siapalah di muka bumi ini yang boleh buat begini? Tiada siapa pernah tekan suis loceng itu atau nak berjumpa dengan saya”. Saya longgarkan tali ikatan di leher dan kemudian pergi ke pintu hadapan. Ketika itu bunyi loceng kuat dan semakin kuat.

Bila saya buka pintu dan lihat, sukar untuk dipercayai oleh mata saya, di anjung rumah saya itu berdiri seorang budak yang sangat comel yang bersinar wajahnya seperti malaikat, tidak pernah saya jumpa sebelum ini di dalam hidup saya. Budak itu tersenyum. Oh! Saya tidak dapat hendak gambarkan kepada anda semua. Perkataan yang keluar daripada mulutnya menyebabkan hati saya yang telah lama mati tiba-tiba hidup semula, seruan budak itu seperti suara bayi yang sangat comel. “Makcik, saya datang hendak memberitahu bahawa Allah sangat menyayangi dan sentiasa melindungi makcik”. Kemudian dia memberikan kepada saya sebuah buku bertajuk “ Jalan Ke Syurga” yang saya sedang pegang ini.


Bila “malaikat kecil” itu telah pulang meredah sejuk dan hujan, saya menutup pintu dan membaca dengan perlahan setiap perkataan yang tertulis di dalam buku tersebut. Kemudian saya naik semula ke loteng untuk mendapatkan semula tali dan kerusi. Saya tak perlukannya lagi.

Oleh sebab di belakang buku ini ada tertera alamat tempat ini, saya sendiri datang ke masjid ini ingin mengucapkan syukur kepada Tuhan. Tuhan kepada budak kecil yang telah datang tepat pada waktunya, yang dengan demikian telah terhindar jiwa saya daripada keabadian di dalam neraka.

Ramai yang berada di dalam masjid ketika itu menitiskan air mata. Mereka melaungkan TAKBIR…ALLAH HU AKBAR…gemaan takbir bergema di udara. Imam iaitu ayah kepada budak itu turun dari mimbar pergi ke barisan hadapan di mana “malaikat kecil” itu sedang duduk.

Dia mendakap puteranya dengan air mata keluar tanpa disedarinya. Mungkin tidak ada jemaah yang memiliki saat yang lebih mulia ini dan mungkin di alam semesta ini belum pernah melihat seorang ayah yang penuh kasih sayang dan penghormatan terhadap anaknya. Inilah satu peristiwa..

Berbahagialah anda kerana membaca kisah ini. Jangan biarkan kisah ini di sini sahaja. Bacalah lagi dan sampaikan kepada yang lain. Syurga adalah untuk umat-Nya. Ingatlah, dengan menyebarkan firman Allah boleh mengubah hidup seseorang yang hampir dengan anda. Sila kongsi kisah menarik ini.

Sebarkanlah kalimah Allah, kalau kita bantu Allah, Allah akan membantu kita dalam semua perkara yang kita buat.

Maksud firman Allah dalam Surah al-Maidah ayat 3;
“…pada hari ini, orang-orang kafir telah putus asa (daripada memesongkan kamu) dari agama kamu (setelah mereka melihat perkembangan Islam dan umatnya), sebab itu janganlah kamu takut dan gentar kepada mereka, sebaliknya hendaklah kamu takut dan gentar kepadaKu. Pada hari ini, Aku telah sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepada kamu, dan Aku telah redakan Islam itu menjadi agama untuk kamu, maka sesiapa yang terpaksa kerana kelaparan (memakan benda-benda yang diharamkan) sedang ia tidak cenderung hendak melakukan dosa (maka bolehlah ia memakannya), kerana Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani"
 
 
Tuesday, October 26, 2010

aku telah dikhitbah si dia....



***************************************
Hari-hari berlalu yang dilewati seakan sudah bertahun lamanya, namun yang perlu diakui ialah ianya baru beberapa minggu lalu. Iya, hanya beberapa minggu lalu. Berita itu aku sambut dengan hati yang diusahakan untuk berlapang dada. Benar, aku berusaha berlapang dada. Terkadang, terasa nusrah Ilahi begitu hampir saat kita benar-benar berada di tepi tebing, tunggu saat untuk menjunam jatuh ke dalam gaung. Maha Suci Allah yang mengangkat aku, meletakkan aku kembali di jalan tarbiyyah dan terus memimpin untukku melangkah dengan tabah. 
Aku hanya seorang gadis. Tiada kelebihan yang teristimewa, tidak juga punya apa-apa yang begitu menonjol. Jalan ku juga dua kaki, lihat ku juga menggunakan mata, sama seperti manusia lain yang menumpang di bumi Allah ini. Aku tidak buta, tidak juga tuli mahupun bisu. Aku bisa melihat dengan sepasang mata pinjaman Allah, aku bisa mendengar dengan sepasang telinga pinjaman Allah juga aku bisa bercakap dengan lidahku yang lembut tidak bertulang. Sama seperti manusia lain.
Aku bukan seperti bondanya Syeikh Qadir al-Jailani, aku juga tidak sehebat srikandi Sayyidah Khadijah dalam berbakti, aku bukan sebaik Sayyidah Fatimah yang setia menjadi pengiring ayahanda dalam setiap langkah perjuangan memartabatkan Islam. Aku hanya seorang hamba yang sedang mengembara di bumi Tuhan, jalanku kelak juga sama... Negeri Barzakh, insya Allah. Destinasi aku juga sama seperti kalian, Negeri Abadi. Tiada keraguan dalam perkara ini. 
Sejak dari hari istimewa tersebut, ramai sahabiah yang memuji wajahku berseri dan mereka yakin benar aku sudah dikhitbah apabila melihat ku memakai cincin di kedua tangan di jari manis. Aku hanya tersenyum, tidak mengiyakan dan tidak pula menidakkan. Diam ku bukan membuka pintu-pintu soalan yang maha banyak, tetapi diam ku kerana aku belum mampu memperkenalkan insan itu. Sehingga kini, aku tetap setia dalam penantian.
 Ibu bertanyakan soalan yang sewajarnya aku jawab dengan penuh tatasusila.
 "Hari menikah nanti nak pakai baju warna apa?"
 Aku menjawab tenang..
 "Warna putih, bersih..."
 "Alhamdulillah, ibu akan usahakan dalam tempoh terdekat."
 "Ibu, 4 meter sudah cukup untuk sepasang jubah. Jangan berlebihan."
 Ibu angguk perlahan.
 Beberapa hari ini, aku menyelak satu per satu... helaian demi helaian naskhah yang begitu menyentuh nubari aku sebagai hamba Allah. Malam Pertama... Sukar sekali aku ungkapkan perasaan yang bersarang, mahu saja aku menangis semahunya tetapi sudah aku ikrarkan, biarlah Allah juga yang menetapkan tarikhnya kerana aku akan sabar menanti hari bahagia tersebut. Mudah-mudahan aku terus melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi. Mudah-mudahan ya Allah.
 Sejak hari pertunangan itu, aku semakin banyak mengulang al-Quran. Aku mahu sebelum tibanya hari yang aku nantikan itu, aku sudah khatam al-Quran, setidak-tidaknya nanti hatiku akan tenang dengan kalamullah yang sudah meresap ke dalam darah yang mengalir dalam tubuh. Mudah-mudahan aku tenang... As-Syifa' aku adalah al-Quran, yang setia menemani dalam resah aku menanti. Benar, aku sedang memujuk gelora hati. Mahu pecah jantung menanti detik pernikahan tersebut, begini rasanya orang-orang yang mendahului.
 "Kak, siapa tunang akak? Mesti hebat orangnya. Kacak tak?"
 Aku tersenyum, mengulum sendiri setiap rasa yang singgah. Maaf, aku masih mahu merahsiakan tentang perkara itu. Cukup mereka membuat penilaian sendiri bahawa aku sudah bertunang, kebenarannya itu antara aku dan keluarga.
 "Insya Allah, dia tiada rupa tetapi sangat mendekatkan akak dengan Allah. Itu yang paling utama."
 Berita itu juga buat beberapa orang menjauhkan diri dariku. Kata mereka, aku senyapkan sesuatu yang perlu diraikan. Aku tersenyum lagi.
 "Jangan lupa jemput saya di hari menikahnya, jangan lupa!"
 Aku hanya tersenyum entah sekian kalinya. Apa yang mampu aku zahirkan ialah senyuman dan terus tersenyum. Mereka mengandai aku sedang berbahagia apabila sudah dikhitbahkan dengan dia yang mendekatkan aku dengan Allah. Sahabiah juga merasa kehilangan ku apabila setiap waktu terluang aku habiskan masa dengan as-Syifa' ku al-Quran, tidak lain kerana aku mahu kalamullah meresap dalam darahku, agar ketenangan akan menyelinap dalam setiap derap nafas ku menanti hari itu.
 "Bila awak menikah?"
 Aku tiada jawapan khusus.

  "Insya Allah, tiba waktunya nanti awak akan tahu..."

Aku masih menyimpan tarikh keramat itu, bukan aku sengaja tetapi memang benar aku sendiri tidak tahu bila tarikhnya.

 "Jemput saya tau!"

 Anis tersenyum megah.

 "Kalau awak tak datang pun saya tak berkecil hati, doakan saya banyak-banyak!"

Itu saja pesanku. Aku juga tidak tahu di mana mahu melangsungkan pernikahan ku, aduh semuanya menjadi tanda tanya sendiri. Diam dan terus berdiam membuatkan ramai insan berkecil hati.

 "Insya Allah, kalian PASTI akan tahu bila sampai waktunya nanti..."

 Rahsia ku adalah rahsia Allah, kerana itu aku tidak mampu memberikan tarikhnya. Cuma, hanya termampu aku menyiapkan diri sebaiknya. Untung aku dilamar dan dikhitbah dahulu tanpa menikah secara terkejut seperti orang lain. Semuanya aku sedaya upaya siapkan, baju menikahnya, dan aku katakan sekali lagi kepada ibu...

 "Usah berlebihan ya..."

Ibu angguk perlahan dan terus berlalu, hilang dari pandangan mata.

 "Jom makan!"

 Aku tersenyum lagi... Akhir-akhir ini aku begitu pemurah dengan senyuman.

 "Sila-sila, saya puasa."

 "Wah, diet ya. Maklumlah hari bahagia dah dekat... Tarikhnya tak tetap lagi ke?"
 "Bukan diet, ma

 Sahabiah juga semakin galak mengusik.hu mengosongkan perut. Maaf, tarikhnya belum ditetapkan lagi."

Sehingga kini, aku tidak tahu bila tarikhnya yang pasti. Maafkan aku sahabat, bersabarlah menanti hari tersebut. Aku juga menanti dengan penuh debaran, moga aku bersedia untuk hari pernikahan tersebut dan terus mengecap bahagia sepanjang alam berumahtangga kelak. Doakan aku, itu sahaja.

 "innalillahi wainna ilaihi rajiun..."
 "Tenangnya... Subhanallah. Allahuakbar."
"Ya Allah, tenangnya..."
 "Moga Allah memberkatinya...."Allah, itu suara sahabat-sahabat ku, teman-teman seperjuangan aku pada ibu.


Akhirnya, aku selamat dinikahkan setelah sabar dalam penantian. Sahabiah ramai yang datang di majlis walimah walaupun aku tidak menjemput sendiri.Akhirnya, mereka ketahui sosok 'dia' yang mendekatkan aku kepada Allah.Akhirnya, mereka kenali sosok 'dia' yang aku rahsiakan dari pengetahuan umum.Akhirnya, mereka sama-sama mengambil 'ibrah dari sosok 'dia' yang mengkhitbah ku.
 Dalam sedar tidak sedar...
 Hampir setiap malam sebelum menjelang hari pernikahan ku... Sentiasa ada suara sayu yang menangis sendu di hening malam, dalam sujud, dalam rafa'nya pada Rabbi, dalam sembahnya pada Ilahi. Sayup-sayup hatinya merintih. Air matanya mengalir deras, hanya Tuhan yang tahu.
 "Ya Allah, telah Engkau tunangkan aku tidak lain dengan 'dia' yang mendekatkan dengan Engkau. Yang menyedarkan aku untuk selalu berpuasa, yang menyedarkan aku tentang dunia sementara, yang menyedarkan aku tentang alam akhirat. Engkau satukan kami dalam majlis yang Engkau redhai, aku hamba Mu yang tak punya apa-apa selain Engkau sebagai sandaran harapan. Engkau maha mengetahui apa yang tidak aku ketahui..."
 Akhirnya, Anis bertanya kepada ibu beberapa minggu kemudian...

 "Adani bertunang dengan siapa, mak cik?"
 Ibu tenang menjawab...
 "Dengan kematian wahai anakku.Kanser tulang yang mulanya hanya pada tulang belakang sudah merebak dengan cepat pada tangan, kaki juga otaknya. Kata doktor, dia hanya punya beberapa minggu sahaja sebelum kansernya membunuh."
"Allahuakbar..."
 Terduduk Anis mendengar, air matanya tak mampu ditahan.
 "Buku yang sering dibacanya itu, malam pertama..."
 Ibu angguk, tersenyum lembut...
 "Ini nak, bukunya."

 Senaskah buku bertukar tangan, karangan Dr 'Aidh Abdullah al-Qarni tertera tajuk 'Malam Pertama di Alam Kubur'.

 "Ya Allah, patut la dia selalu menangis.. Anis tak tahu mak cik."

"Dan sejak dari hari 'khitbah' tersebut, selalu dia mahu berpuasa. Katanya mahu mengosongkan perut, mudah untuk dimandikan..."
Anis masih kaku. Tiada suara yang terlontar.
 ************************************

"Satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku di risik oleh MAUT. Dan satu cincin ini aku pakai sebagai tanda aku sudah bertunang dengan MAUT. Dan aku akan sabar menanti tarikhnya dengan mendekatkan diri ku kepada ALLAH. Aku tahu ibu akan tenang menghadapinya, baginya anak adalah pinjaman dari ALLAH yang perlu dipulangkan apabila ALLAH meminta."

 ** Cukuplah kematian itu mengingatkan kita... Cukuplah kita sedar kita akan berpisah dengan segala nikmat dunia. Cukuplah kita sedar bahawa ada hari yang lebih kekal, oleh itu sentiasalah berwaspada. Bimbang menikah tergesa-gesa, tahu-tahu sudah disanding dan diarak seluruh kampung walau hanya dengan sehelai kain putih tak berharga.**

~ Kullu nafsin za'iqatul maut ~

edited from: iluvislam

Ray Templates

berlari-lari ke kemuncak penantian..

Daisypath Graduation tickers